The Danger of Knowledge Without Attitude

The Danger of Knowledge Without Attitude


Oleh: Ihsan Aji Saputra (235211055)

          Manajemen Bisnis Syariah 3b


Science without religion is lame, religion without science is blind.

Ilmu tanpa agama itu buruk, agama tanpa ilmu itu buta

    Sebuah kalimat yang cukup relevan dari Albert Enstein di zaman sekarang. Kalimat yang menggambarkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan maupun ilmu agama. Ilmu tanpa agama itu buruk bisa di tafsirkan bahwa kehadiran agama itu sangat penting di dalam ilmu. Apalagi di zaman yang serba cepat ini. Teknologi yang sudah dianggap sebagai tuhan haruslah dirasuki nilai-nilai agama di dalamnya. Banyak orang-orang berintelektual yang kurang memperhatikan agama dalam menciptakan, menggunakan, dan mengembangkan teknologi. Mereka para intelektual lebih mementingkan keuntungan dari pada kepedulian baik bagi sesama manusia maupun untuk tuhan.

    Ilmu dan agama tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain keduanya sangat penting bagi kehidupan manusia. Ada sebuah maqolah dari Hadrotus Syaikh Hasyim Asy’ari yang berbunyi “ al-‘adabu fauqol ‘ilmi” yang berarti adab diatasnya ilmu. Dari maqolah ini kita dapat mengkaitkan dengan ilmu tanpa agama itu buruk dengan berdasar pada maqolah tersebut. Sebagai kaum yang katanya berintelektual, pelajar dan pengajar justru menjadi penyebab terlupakannya adab dalam ilmu. Banyak anak-anak zaman sekarang yang kurang memahami ap aitu adab atau attitude. Mereka melakukan semua hal yang mereka inginkan tanpa memikirkan tata krama atau norma yang ada. Hal ini sangat miris untuk anak muda Indonesia. Persoalan tentang etika dan moral tidak akan pernah hilang dari perbincangan.

    Berbicara tentang adab atau attitude dan ilmu keduanya saling berkaitan. Namun harus didahulukan mana antara adab dan ilmu. “Orang beradab pasti berilmu, orang berilmu belum tentu beradab” dari kalimat ini banyak orang mengartikan bahwa manusia yang berilmu namun tidak beradab bagaikan binatang. Manusia dan binatang dibedakan dengan ilmu dan akal. Namun jika manusia berilmu namun tidak beradab sama halnya seperti binatang seperti tidak memiliki akal. Hal ini sudah nyata terjadi di dunia ini terutama di negara Indonesia. Banyak kasus-kasus yang menyangkut orang-orang berilmu mulai dari pejabat yang korup, guru yang cabul, dan oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Mereka adalah orang-orang yang berilmu bahkan gelar mereka sudah bisa disebut professor namun mereka tidak memiliki akal  yang sehat dan tidak disertai dengan iman yang kuat. Inilah pentingnya agama di dalam ilmu yang mana agama di sini diwakilkan oleh adab dan iman. 

    Untuk memecahkan masalah ini sebenarnya tidak mudah banyak sekali bagian-bagian dari sistem yang ada yang harus dirubah dan diperbarui. Hukum yang berlaku harus ditegaskan pemimpin-pemimpin yang korup harus dimusnahkan dan banyak hal yang harus dilakukan oleh penerus bangsa supaya nasib bangsa kedepannya akan maju. Orang tua sebagai guru pertama anaknya harus berperan penting untuk perkembangan ilmu dan moral buah hatinya. Semua harus dilakukan berkesinambungan antara pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan generasi penerus bangsan yang berintelektual,beradab, dan berkualitas tinggi.

    Menciptakan generasi penerus bangsa yang berintelektual serta beradab adalah tugas semua elemen yang ada. Penting bagi semua elemen untuk menciptakan kedua hal ini secara bebarengan. Pendidikan yang berkarakter seperti inilah yang diharapkan ada di negara Indonesia. Karena orang yang berilmu dan beradab akan memberikan banyak kemaslahatan bagi umat tidak hanya mengejar keuntungan bagi dirinya sendiri.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Etika Bisnis Islam di Era Digital dalam Membangun Kepercayaan pada Platform E-Commerce

KEBIJAKAN PUBLIK DALAM PERSPEKTIF ETIKA BISNIS ISLAM

Etika Bisnis Islam dalam Era Digital: Privasi, CSR, dan keberlanjutan di E-Commerce