Penggunaan Media Sosial dan Etika Komunikasi pada Platform Digital

Penggunaan Media Sosial dan Etika Komunikasi pada Platform Digital


Oleh : Faradillah Cahyaningtyas

Nim 235211228

Manajemen Bisnis Syariah 3F


      Media sosial merupakan platform digital yang memungkinkan penggunanya berinteraksi dan berbagi konten seperti tulisan, foto, dan video. Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Platform-platform digital seperti Facebook, Instagram, dan Twitter telah menjadi salah satu alat penghubung orang-orang di seluruh dunia. Kemudahan akses dan interaksi yang ditawarkan media sosial telah merevolusi cara kita berkomunikasi. Etika komunikasi di dunia digital pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan etika komunikasi dalam kehidupan nyata. Ada beberapa prinsip-prinsip yang harus dilakukan dalam etika komunikasi seperti saling menghormati, jujur, sopan santun, dan bertanggungjawab. Namun, jarak yang ada dalam dunia digital seringkali membuat orang merasa lebih bebas untuk mengungkapkan pendapat tanpa menyaring baik buruknya. Hal tersebut bisa memicu munculnya perilaku seperti ujaran kebencian, penyebaran berita bohong, dan cyberbullying.

      Pelanggaran etika dalam komunikasi di media sosial dapat menimbulkan dampak negatif yang serius, baik bagi individu maupun masyarakat. Ujaran kebencian dapat memicu perpecahan dan konflik sosial. Berita bohong dapat menyesatkan publik dan menghambat proses pengambilan keputusan. Cyberbullying dapat menyebabkan korban mengalami trauma psikologis. Pelanggaran privasi dapat merusak reputasi seseorang dan menimbulkan kerugian finansial. Selain itu, media sosial juga membawa dampak positif seperti mempermudah akses informasi, memperluas jaringan sosial, dan mendorong partisipasi dalam berbagai isu sosial. Oleh karena itu, kita sebagai pengguna media sosial harus bijak dalam memahami dampak-dampak tersebut agar dapat memanfaatkan media sosial dengan baik.

      Contoh fenomena etika dalam bermedia sosial yang terjadi di salah satu platform digital yaitu tiktok. Platform tiktok telah menjadi fenomena global, terutama di kalangan generasi muda. Popularitasnya yang sangat menonjol ini tidak lepas dari kemudahan pengguna dalam membuat dan membagikan video yang kreatif. Tiktok bukan hanya menjadi media untuk hiburan, tetapi juga menjadi platform untuk berbagai perilaku, seperti fenomena "prank" yang seringkali dianggap bisa melampaui batas etika.

      Banyak pengguna tiktok yang membuat konten "prank" dengan tujuan menghibur pengikutnya. Tapi tidak sedikit prank yang dilakukan dengan cara yang tidak etis, seperti mengejutkan orang lain dengan cara yang menakutkan, membuat lelucon yang menyakitkan, atau bahkan melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Akibatnya, muncul berbagai perdebatan mengenai batas kewajaran dalam membuat konten prank di tiktok. Contoh kasus yang sering terjadi adalah prank yang melibatkan orang tua, saudara, atau teman dekat. Pelaku prank biasanya merekam reaksi korban yang terkejut atau marah, kemudian mengunggahnya ke tiktok. Tindakan ini dapat merusak hubungan interpersonal dan menimbulkan trauma psikologis bagi korban. Selain itu, beberapa prank juga melibatkan tindakan yang melanggar hukum, seperti kejahilan, kejahatan atau penipuan. Fenomena prank yang terjadi di tiktok ini menimbulkan pertanyaan penting tentang bagaimana orang berkomunikasi di media sosial. Salah satu hak yang dilindungi adalah kebebasan berekspresi, tetapi kebebasan ini harus diimbangi dengan tanggung jawab. Pengguna tiktok harus menyadari bahwa tindakan mereka memiliki dampak bagi mereka sendiri dan orang lain. 

      Contoh lain yang sering terjadi di platform digital lainnya seperti adanya sebuah sebuah brand kecantikan yang meluncurkan produk baru dan memberikan deskripsi yang berlebihan seperti dapat memutihkan kulit secara instan. Kemudian brand tersebut menggunakan influencer dengan jumlah pengikut yang banyak untuk mempromosikan produk tersebut dengan foto-foto yang diedit secara berlebihan. Tetapi setelah diluncurkan produk baru tersebut, banyak konsumen yang mengeluh bahwa produk tersebut tidak menghasilkan seperti apa yang dideskripsikan diawal dan malah membuat iritasi pada kulit konsumen. Hal tersebut dapat menimbulkan pertanyaan etika dalam pemasaran serta komunikasi pada platform digital, yang mana brand tersebut menggunakan influencer untuk menyebabkan informasi yang menyesatkan demi memperoleh keuntungan. Tindakan tersebut dapat merugikan bisnis brand tersebut dan konsumen. Dan juga dapat menimbulkan hilangnya kepercayaan konsumen terhadap brand tersebut.

      Oleh karena itu, untuk menciptakan lingkungan digital yang sehat dan positif, kita bisa menerapkan prinsip-prinsip etika baik dalam berkomunikasi juga diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak. Pendidikan dan literasi mengenai etika digital sejak dini sangat penting. Platform media sosial juga perlu meningkatkan upaya untuk mencegah dan menanggulangi pelanggaran etika. Dalam menggunakan platform digital kita juga harus jujur disetiap aktivitas yang kita bagikan, apalagi yang menggunakan media sosialnya untuk berbisnis. Selain itu, setiap individu perlu bertanggung jawab atas setiap kata yang mereka tulis dan setiap tindakan yang mereka lakukan di dunia digital juga bertanggung jawab atas konten yang dibagikannya dimedia sosial. Dengan demikian, kita dapat memanfaatkan media sosial secara bijak dan membangun komunitas online yang lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Etika Bisnis Islam di Era Digital dalam Membangun Kepercayaan pada Platform E-Commerce

KEBIJAKAN PUBLIK DALAM PERSPEKTIF ETIKA BISNIS ISLAM

Etika Bisnis Islam dalam Era Digital: Privasi, CSR, dan keberlanjutan di E-Commerce